***************************
[1]Abdul Hadi W.M., "Mantiq al-Tayr, Alegori Sufi Faridudinal-Attar", Diktat kuliah Sejarah Seni dan Sastra Islam, ICAS-Paramadina Jakarta.
[2] www.nurulkhatami.com, Majelis Kajian Tasawuf.
[3] Jubah kebanggaan para Darwis yang biasanya berupa kain yang banyak tambalannya. Atau juga kadang terbuat dari wool.
[4] www.nurulkhatami.com
[5] FaridudinAttar, Manthiq at-Thair, terj. Surgana, Yogyakarta: Hijrah 2003, catatan kaki hal. 88.
[6] Satu hal yang menjadi kekurangan dari tulisan ini adalah penulis tidak membaca karya aslinya, atau paling tidak karya dalam bahasa Parsinya. Dalam karya terjemahan yang telah menjadi rujukan penulis, Manthiq at-Thair telah tertata sebegitu rapi, dan jika memang dalam penunjukkan bagian-bagian itu ada yang kurang pas dengan karya yang berbahasa Parsi, pembaca dapat langsung merifer ke karya terjemahan yang penulis gunakan.
[7] Abdul Hadi W.M, Op.Cit., dan , "Cinta Ilahi dalam Tasawuf Menurut Faridudin Attar Melalui Manthiq at-Thair"
[8] Ibid, hal 188.
[9] Dr. Abdul Hadi W.M, Op.Cit.
[10] Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui mata hati sang pencari.
[11] Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong. Sense yang nampak dari lembah keesaan sepertinya sama dengan kata-kata sang Budha ini.
[12] Faridudin Attar, Op.Cit. hal. 39.
[13] Pertanyaan yang selalu muncul ketika membaca penjelasan Attar. Apakah setiap Salik akan membutuhkan pengalaman yang sama dengan apa yang diajarkan Attar. Dan sayapun menjawabnya, tentu tidak harus.
[14] Ibid, hal 251.
Thursday, May 21, 2015
Faridudin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (Fariduddin Attar) Sang Cemeti …
Faridudin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (Fariduddin Attar) Sang Cemeti …
May 21st 2015, 19:32
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment