TRIBUNJAMBI.COM – Memiliki kulit yang bersih dan halus, tubuh ideal serta paras yang cantik jamak menjadi impian perempuan. Alfi bisa dibilang memiliki ketiganya. Tak heran ia sering diminta menjadi model dan kerap memenangi ajang peragaan busana. Namun saat perempuan berlomba-lomba tampil seksi, pemilik nama lengkap Alfi Syahri justru memilih menutup rapat kelebihannya tersebut dengan hijab secara menyeluruh.
Perempuan 21 tahun ini sekarang lebih dikenal sebagai motivator hijrah. Motivasi dan ajakannya cukup hits di media sosial, jadi tak heran bila namanya samar dikenal netizen. Setahunan lalu, Tribun menjumpainya sebagai ketua Hijabers Merangin, dan posisi tersebut ternyata masih ia sandang. Di sini ada sebuah ironi yang harus ia jalani, manakala keputusannya berhijab syar'i belum tentu sesuai dengan anggota lainnya.
"Sebenarnya berhijab itu sama dengan berhijrah. Tapi berhijrah ke hijab yang mananya? Okelah yang baru pemula, dari yang belum pernah pakai hijab mulai berhijab pendek (modis). Dari berhijab modis ke hijab syar’i, dari hijab syar’i ke berniqab. Semuanya berkelanjutan tidak ada berhenti, pindah ke jalan yang lebih baik lagi," papar Alfi ketika melakukan meet up di Kota Jambi, pekan lalu.
Hijrah bukan terbatas hijab saja, tapi hijrah keseluruhan. Di sinilah tantangan dan letak menariknya berhijrah menjadi muslimah yang sebenar-benarnya. Ketika perempuan berbondong-bondong ingin tampil seksi, di sini justru sebaliknya, menyembunyikan keseksian tersebut hingga benar-benar tak nampak. Muslimah juga tidak berkhalwat/pacaran, oleh karena itu ia lebih bangga menjadi jomblo karena itu menurutnya lebih baik daripada pacaran.

"Dulu awal hijrah Alfi hanya tahu hukum berhijab saja, ternyata masih banyak ilmu sunnah yang belum Alfi ketahui. Seperti wanita dilarang mencukur bulu alisnya, mengikir giginya, memakai parfum diantara kumpulan laki-laki, pokoknya muslimah banyak pantangannya. Sudah fitrahnya wanita berdandan, wangi, pokoknya tampil lebih dan lebih. Sedangkan di dalam Islam muslimah disuruh sederhana agar tidak menarik perhatian kaum adam," paparnya antusias.
Di media sosial, iapun mengaku banyak menemukan hal-hal menarik yang datang dari netizen. Misalnya saja netizen yang melemparkan pertanyaan seputar fleksibilitas Islam terhadap perkembangan zaman. Di jaman yang serba modern, orang yang mencoba menegakkan syariat agama terkadang justru dianggap kaku, fanatik, bahkan anggapan ikut aliran tertentu. Padahal menurut sulung dua bersaudara ini, hal tersebut adalah sebuah kewajaran yang harus dilakukan setiap muslim.
"Udah sering banget dapat cibiran begitu. Malah dibilang 'ini aliran apa sih, aliran ISIS ya? biasa aja Islamnya jangan fanatik bener'. Banyak. Kalau Alfi simpel saja. Kita muslim, kita harus buktikan “Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah”. Kalau emang nggak ada tuhan selain Allah, kok ngga mau nyembah Allah? Salat malas.. puasa malas, kok ngga mau taat sama Allah? Berhijab malas.. memperbaiki malas. 'kalo hanya hidup sekedar hidup, kera di hutan juga hidup'. Jadi kita mesti cari tahu apa tujuan kita hidup?," paparnya.
activate javascript

No comments:
Post a Comment